Part 2 - INDONESIA VS CORONA


Pemerintah langsung menggalakkan kampanye bekerja, belajar, berdoa dari rumah, sosial media di penuhi #dirumahaja. Ini adalah bentuk penekanan penyebaran virus, dengan asumsi kalau kita tidak bertemu dengan orang lain, dan menjaga jarak fisik, kita tidak akan tertular/menularkan, Physical Distancing istilah yang digunakan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Yang terbaru ada kebijakan PSBB (Pembatasan Sosisal Berskala Besar), ini semacam lockdown dengan bahasa yang lebih halus. Apakah ampuh? lumayan sih, tapi  dirasa masih kurang greget. Terus gimana?

Picture by trans7.co.id

 Lockdown total di negara ini mungkin yang paling tepat, karena itu benar-benar bisa menghentikan laju si virus jadi gak nanggung-nanggung penanganannya. Tapi bukan Negara +62 namanya kalau gak ada pro dan kontra, semua punya pendapatnya masing-masing yang dianggap tepat dan benar. Boleh beragumen asal punya alasan dan solusi, bukan hanya menngkritik tanpa memberi solusi, kalau itu nama nya mencaci. Apalagi debat kusir di kolom komentar sosial media tanpa sumbangsih nyata.

Terus gimana caranya lockdown? kan banyak pekerja harian, terus gimana dapet uang, gimana kita makan, gimana ekonomi Indonesia, dan banyak lagi pertanyaan.

Simple aja, sekarang fokus kita adalah di memberantas virus ini supaya hilang dari NKRI, karena nyatanya obat belum ditemukan. Jadi untuk sektor lainnya bisa dikebut setelah wabah ini lenyap dari Indonesia. Itulah fungsi dari anggota DPR, MPR, para Menteri dan dinas yang terkait. Mereka kumpulan orang (yang katanya) pintar, mereka di bayar mahal untuk mengurus Negara, mereka di pilih rakyat yang karena dianggap mampu menata dan mengurusi urusan Negara. Termasuk kita rakyatnya, kita yang membayar mereka lewat pajak. Jadi fokus kita harus sama dulu yaitu menghentikan penyebaran virus dan menyembuhkan mereka yang sakit. Jadi untuk ekonomi, impor/ekspor, bisnis, saham biar orang-orang yang lebih kompeten untuk membahas itu, ini bukan urusan ‘cari untung’ dalam keadaan seperti ini. Lebih ke pertahanan dan kesatuan kita sebagai bangsa dalam melawan virus sialan ini. Bukan hal yang mustahil, karena angka sembuh sudah melebihi angka kematian


Picture by lampost.co

Kalau pemerintah sudah sepaham (di kalangan elit sepaham konon katanya adalah hal yang tabu) terus gimana cara memenuhi kebutuhan sehari-hari rakyatnya? ya gampang aja, punya E-KTP kan? Itu kan sudah elektronik jadi gampang untuk mendata nya. Lalu yang merantau ke luar daerah asal gimana? kan ada pemerintah daerah, mereka punya sistem dan jajaran yang sangat cukup untuk melakukan tugas itu. Catat jumlah warganya per lingkungan atau per desa, setor datanya, dan estimasikan kebutuhannya. Perlu dan dirasa wajib melibatkan ahli gizi dalam memenuhi kebutuhan pangan ini. Semua bisa mereka kerjakan dirumah, kecuali tim yang mendata ke rumah-rumah warga, urusan setor data semua bisa di lakukan lewat gadget, toh jaringan internet juga masih berfungsi. Hanya saja mereka mau peduli ke warganya atau tidak? Ada RT, RW, Lurah, Camat, yang seharusnya bisa berkoordinasi secara sistematis mengurus warga sampai lapisan paling bawah, jadi untuk data tersebut tidaklah sesusah itu. Asal semua birokrasi punya etos kerja yang baik , itu semua memungkinkan.

Yang jadi kendala adalah ketahanan pangan kita, apakah cukup untuk memenuhi kebutuhan semua warga dari Sabang sampai Merauke dalam beberapa bulan ke depan? Seharusnya cukup, Indonesia itu kaya, apa sih yang gak kita punya? Akan cukup dengan catatan para petani, distributor dan komponen lain tidak direpotkan dengan aturan birokrasi yang (selalu) ribet. 

Kalau data sudah lengkap, ketersediaan pangan sudah siap beserta estimasi detailnya, tinggal menyalurkan bantuan itu ke semua warga. Gimana cara nya? Kan lagi social distancing, gak boleh ada keramaian dan semacamnya? Kalau untuk kepentingan bersama saja kalian masih mencari kesalahan, maka sama aja kalian adalah tim dimana ada kecelakaan motor bukannya nolong atau telpon ambulance tapi malah live di facebook.


picture by pelajaran.co.id  

Itu bisa dikondisikan masing-masing desa, dijadwalkan, dan diatur sedemikian rupa. Antar ke rumah warga dengan mobil pick-up, kalau desa itu tidak punya mobil bisa tunjuk 2-5 orang warga yang mau membagikan sembako ke setiap rumah. Mereka bisa digaji dengan dana desa yang ada, ya minimal diberi uang bensinlah. Pasti banyak yang mau karena di Indonesia tidak kekurangan orang baik berjiwa pahlawan.


Terlihat gampang kan? Walaupun sebenarnya bakal lebih susah dari itu, tapi setidaknya ide dan gagasan itu bisa membuat semua warga tetap di rumah, menuruti anjuran pemerintah dengan goal mengehentikan penyebaran virus ini. Kita semua pasti mau #dirumahaja dengan catatan negara benar-benar hadir mengayomi dan bertanggung jawab atas semua warganya tanpa terkecuali.


Mereka yang masih keluar rumah untuk bekerja adalah mereka yang tidak mau mati konyol didalam rumah karena kelaparan. MEREKA TIDAK BANDEL !!


Mustahil kah gagasan itu di realisasikan?  MasBay yakin bisa! Terus gimana kalau bantauan yang kita terima  itu gak sesuai dengan apa yang di janjikan? Nah ini saat nya jajaran dinas ITE dan komunikasi bergabung dengan cara membuat layanan aduan, bisa lewat aplikasi atau buat yang belum memiliki internet di daerahnya bisa mengadu lewat sms/telepon bebas biaya. Karena biasanya kalau pemerintah pusat memberikan kebijakan/bantuan langsung kepada warganya, bisa saja tidak sampai ke tangan warga yang memang jadi sasaran utama. Kalau memang sampai, mungkin sudah di potong ini lah itu lah, kalau sampai dengan utuh tanpa kurang itu sangat waow atau mungkin lagi ada media yang meliput.

Banyak portal berita yang mengangkat cerita sejenis ini, bantuan dari pemerintah eh ternyata di slewengkan oleh aparat desa, bahkan mulai banyak foto tulisan warga seperti ini


Picture by tagar.id

Terlepas benar/tidaknya tetap saja miris kalau ini benar terjadi. Kenapa  miris? Yup, korup seakan sudah menjadi budaya negatif kita yang sangat cepat menular, hampir menjadi culture tapi dalam konotasi yang buruk. Disaat seperti ini masih saja ada oknum yang nakal. Sebenarnya kalau dipikir lebih dalam lagi, ini bukan contoh satu-satunya, ada yang namanya kebijakan Dana Desa? kemana lari uangnya? Sepertinya masih banyak desa yang belum bisa memanfaat kan dengan tepat. Kita berhak tau rincian dana desa itu, apalagi di saat krisis seperti ini. Dana itu bisa di gunakan untuk membantu warganya, baik itu warga asli desa itu atau warga perantau, karena mereka juga warga Indonesia!! Tapi, masih ada kejadian yang lebih kejam lho..

Dan itu sangat menjijikkan! Berita di beberapa daerah mulai ada penolakan jenazah yang meninggal akibat corona. Bahkan ada aparatur desa yang dengan sadar menolak, video nya heboh yang akhirnya selang beberapa hari ada video permintaan maafnya, tai kucing lah! Ada juga beberapa kabar penolakan pulangnya pekerja dari luar negeri. Ada juga video dari oknum ojol yang mengancam melakukan tindakan krimal kalau wabah ini tidak teratasi.


Picture by geotimes.co.id

Ya.., Inilah wajah Indonesia sekarang, INDONESIA yang bukan INDONESIA lagi. Simpati dan empati adalah sifat yang langka. Ingat, kita adalah negara yang mayoritas ber-agama, apakah itu implementasi dari ajaran agama itu di kehidupan kita? Jujur saja, kita kalah dengan negara komunis yang lebih humanis dari pada kita negara yang agamis.

Permasalahan nya mungkin dari kemajuan teknologi yang sangat pesat, kita diberikan social tools tapi tidak dibekali social skills. Banyak orang semakin tersesat di dalam ber-media sosial, kita lebih gemar menyebarkan berita bohong, berita mengerikan dari pada berita yang mebuat orang bersemangat, berita yang membuat orang menjadi berpikir positif dan bahagia. Kalian bandingkan saja beranda facebook, portal twitter atau explore instagram belakangan ini. Isinya hampir semua sama, tentang bertambahnya kasus, bertambahnya korban meninggal, dan narasi lainnya yang seolah menggiring kita ke rasa takut yang lebih dalam. Mungkin yang sedikit menghibur adalah nonton video tiktok ciwi-ciwi dengan goyang uhuuy ,tiktok mas-mas Madura dengan style ala sazuke, atau coba kalian ketik “random para tolol” di youtube kalian (cukup menghibur).  Ya itulah Indonesia kita sekarang.

Terus apa relevansi wabah corona dengan blog ini yang katanya bakal mengulas tentang tempat wisata, estimasi biaya, dan tipsnya? Santuy, bukan  MasBay  namanya kalau tidak bisa melihat prespektif lain dari sebuah kejadian. Bahkan situasi ini adalah waktu yang tepat untuk kita siap-siap merencanakan liburan yang tertunda. Bahkan ini adalah kesempatan langka buat kalian penghobi travelling .


Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk

Seri penutup di part 3 - TERIMAKASIH CORONA

Baca juga part 1 nya -  SKENARIO SI CORONA


Comments

Popular posts from this blog

GEAR ANTI RIBET SAAT TRAVELLING ALA MASBAY

Part 1 - SKENARIO SI CORONA

ALAS PURWO BANYUWANGI - HUTAN ANGKER SAMPAI KERAJAAN JIN